Sinopsis Novel "Katak Hendak Jadi Lembu” karya Mochtar Lubis

Di suatu hari yang amat menyegarkan itu hiduplah seorang bernama Suria yang sudah mempunyai dua orang anak pula. Kedua anak itu bernama Saleh dan Aminah. Mereka hendak berangkat ke sekolah. Ayahnya adalah seorang menteri kabupaten di Sumedang. Ayahnya bernama Suria. Sedangkan ibunya bernama Zubaidah. Ia hanya seorang ibu rumah tangga yang mempunyai kebiasaan bekerja di ruang belakang atau yang sering disebut dengan dapur. Di dalam rumah ini sebenarnya ada lagi seorang anak sulung dari Suria dan Zubaidah yang bernama Abdullhalim. Ia adalah anak yang sering dibanggakan oleh Suria di mana saja ia berada dan tidak lepas dengan congkak saat Suria menceritakan anaknya ini. Saat ini Abdulhalim masih melanjutkan sekolahnya di Osvia, Bandung.
Setelah itu, Suria berangkat ke kantor untuk mencari nafkah. Tidak jauh kantornya karena Suria hanya menaiki sepeda untuk sampai ke sana. Saleh dan Aminah pun juga pergi ke sekolah mereka masing-masing untuk menuntut ilmu juga. Tak lama kemudian setelah Suria berangkat, entah mengapa Zubaidah merasa kesepian dan termenung sendiri layaknya seeorang yang tidak punya teman karena ia ingin mengungkapkan sesuatu namun ia sendiri bingung harus bicara pada siapa selain dengan dirinya dan isi hatinya sendiri. Tiba-tiba Zubaidah merasa tidak enak dengan ayahnya yang bernama Haji Zakaria itu. Awalnya hanya merenung tentang keluarga sewndiri. Tetapi lama-lama menuju pada kesadaran bahwa rupanya ia belum sempat membahagiakan orang tuanya dan mulai itupun ia berpikiran akan selalu tepat dengan anggaran belanja dan belanja hanya untuk yang dibutuhkan dengan benar-benar saja.
Saat itu, Patih ingin memberi sebuah surat kepada Suria. Namun Suria belum datang ketika itu. Patih sudah akan pergi dari kantornya pagi itu. Dengan cara lain, Patih menyuruh seorang pesuruh untuk menitipkan surat bahwa ia akan pergi ke suatu tempat. Tak lama kemudian setelah Patih pergi, Suriapun datang. Setelah Suria sampai di kantor, tak lama kemudian ada sebuah surat dari Patih yang disampaikan lewat pesuruhnya tadi. Saat menerima surat itu Suria sedang duduk santai-santai di kursi kantornya. Sehingga sepucuk surat itu tidak langsung dibuka oleh Suria melainkan hanya dilihatnya saja surat itu, belum isinya. Beberapa menit setelah itu, datanglah Haji Junaedi yang disambut dengan tidak ramah kedatangannya oleh Suria. Tetapi tidak lama kemudian setelah Patih datang, Haji Junaedi disambut cukup baik olehnya.
Setelah hari berganti dengan hari, Suria pergi ke sebuah desa bernama Rancapurut. Itu adalah daerah di mana Haji Junaedi tinggal. Di siru, Suria disambut dengan hangat terutama Haji Junaedi. Entah mengapa Haji Junaedi yang sudah tidak diperlakukan kurang sopan ketika di kantir Suria, namun masih saja Haji Juanedi berbaik hati kepada Suria. Sungguh tulus hati Haji Junaedi. Tetapi justru di sini Suria menjadi lebih sombong dan nampak sekali sifat gila hormat Suria. Obrolannya dengan Haji Junaedi membuat Haji Junaedi terkadang sedikit emosi namun mau tak mau emosi itu harus ditahan sementara karena ia sedang berhadapan dengan Suria. Apalagi ketika Suria menanyakan tentang Fatimah anak Haji Junaedi itu yang sempat terlintas bahwa ia cantik. Entah apa maksud Suria menanyakan tentang Fatimah. Akhirnya saat sore tiba, Haji Junaedi memberikan burung kepada Suria untuk oleh-oleh pulang ke rumah. Burung adalah hewan kesukaan Suria. Jadi Suria sangat senang ketika itu.
Sesampainya di rumah, Suria dan Zubaidah mengobrol. Topik mereka kali ini adalah tentang dirinya ketika di rumah Haji Junaedi. Tak luput juga diceritakan ketika Suria disambut sangat baik di sana. Sungguh Suria memang orang yang gila hormat. Tidak lupa Zubaidah juga ingin mengungkapkan isi hatinya yang telah terisi ketika sedang selalu termenung di rumah. Mulai di sini malah menjadi perpecahan pembicaraan karena pembicaraan malah menjadi serius. Keduanya menjadi dingin.
Setelah semuanya berlalu dengan sendirinya. Keesokan harinya seorang asisten meminta Kosim untuk mengantar surat penting ke asisten-residen. Semua itu haru dilalui melalui Suria dengan meminta surat ijin darinya. Kosim adalah seorang yang menjadi pesuruh. Ia adalah seorang yang sedang magang. Entah mengapa Kosim lama-kelamaan tidak menyukai sikap Suria yang menganggap Kosim hanya seorang buda sehingga saat malam hari datang Kosim berniat membunuh Suria namun digagalkan oleh seorang juru tulis di kantornya itu. Kosim pun mengerti sebenarnya perbuatan itu jikalau dilakukan sungguhan berarti ia adalah orang yang tidak manusiawi karena hanya mengandalkan emosi sesaat dan ketika itupun ia juga sedang naik darah dengan cepatnya sehingga bisa hampir melakukan sesuatu tanpa pemikiran terlebih dahulu.
Gila pangkat pun juga salah satu sifanya yang akhirnya muncul. Ketika itu ia meminta dinaikkan jabatannya dan permintaan ini diajukan kepada Patih. Ia sudah bercita-cita lama untuk menjadi seorang residen. Sampai-sampai ia mengadakan pesta dan membeli barang-barang sewperti layaknya seorang residen. Tentu diketahui seperti apa barang-barang residen, bukan uang dalam jumlah kecil yang keluar dari kantongnya. Ia juga sampai berhutang kepada orang lain untuk membeli segala macamnya itu. Tambah menumpuk hutang-hutangnya. Zubaidahpun ikut khawatir dengan kondisi ini, namun Suria tetap diam saja dan masa bodoh dengan perbuatan ini.
Suria seharusnya sedih melewati hidupnya ini. Bagaimana tidak jika setiap hari penaguih hutang selalu datang kerumahnya setiap hari. Selalu saja ada wajah-wajah yang berbeda selalu ditemuinya bukan untuk urusan lain kecuali uang. Tetapi di sini Suria lebih terlihat picik lagi. Tidak pernah mau dia keluar untuk menemui penagih hutang-hutang tersebut. Menurutnya lebih baik Zubaidah yang menghadap semua penagih hutang yang datang kerumahnya. Namun akhirnya manusia juga ada batasnya ketika harus bersabar dan bersabar. Apalagi ketika Zubaidah diberi kiriman uang oleh orang tuanya untuk membayar sekolah Saleh dan Aminah. Uang kiriman itu diminta Suria untuk melunasi hutang-hutangnya. Setelah itu Zubaidah sempat marah kepada Suria. Sungguh tega sampai harus merelakan pendidikan yang sedang ditempuh kedua anaknya.
Beberapa hari telah berlalu. Abdulhalim akhirnya sudah bisa pulang ke rumah dan bertemu dengan kedua orang tuanya juga dengan kedua adiknya itu karena sudah tamat sekolahnya di Osvia. Sempat di sini Suria banayk diperbincangkan untuk menjadi topic oleh para petinggi. Tambah sombong Suria mengetahui hal itu. Ia senang, tetapi ia tidak sadar apa yang diperbuatnya itu adalah hal yang salah dan selalu menimbulkan keresahan bagi keluarganya.
Setelah ia bersenang-senang dengan anak-anaknya ketika itu, sempat terlintas dalam pikirannya tentang jabatan barunya itu. Ia sangat menginginkannya sampai-sampai ia harus memikirkannya berulang kali. Tidak seperti biasanya, Suria dating pagi-pagi benar. Ketahuilah sendiri kalau Suria biasa dating kesiangan atau terlambat sampai ke kantor. Tetapi yang namanya gila pangkat, ia harus rela pagi-pagi benar dating ke kantor untuk mengetahui apakah ia akhirnya jadi residen atau tidak. Setelah didengar kabarnya itu, ia harus menerima semuanya. Kosim lebih dipilih daripada Suria.
Suria berulang kali terpikir hal itu lagi. Ia tidak berhasil menjadi residen. Tambah bingung utnuk mecari pengganti hutang-hutangnya itu. Tapi ia teingat pada satu sosok. Suria sanagt licik pada hal ini. Ia ingin meminta tolong pada Haji Junaedi. Sempat ia terpikir untuk menikahi anaknya, Fatimah yang baik parasnya itu untuk dinikahinya dan ingin hartanya. Mungkin ia lupa akan Zubaidah yang selalu menyayanginya dan selalu menyempatkan diri untuk menunggu Suria pulang ke rumah sehabis kerja.
Tambah sedih lagi Suria ketika itu. Suria harus menerima segalanya saat Suria ingin menikahi Fatimah dan bertanya kepada Haji Junaedi melalui surat menyurat. Kosim adalah jodoh Fatimah ternyata. Kosim yang selalu dijelek-jelekkan, dianggap budak, dan selalu direndah-rendahkan oleh Suria ini sudah mengambil dua kali keinginan Suria yang telah gagal. Pertama adalah pangkat. Hanya dari pesuruh, Kosim bisa menjadi residemn, bahkan Suria yang seorang menteripun tidak bisa. Kedua adalah jodoh Fatimah. Ternyata Haji Junaedi bisa memilih dengan baik mana pasangan yang cocok untuk anaknya. Saat hari pernikahannya pun, Suria tidak hadir di situ. Mungkin ia telah terlanjur sakit hati.
Tanpa sebab yang pasti saat Suria sudah mulai surut dengan pekerjaannya, ia ditanyai oleh Paih mengapa bisa menjadi demikian. Saat ditanya seerti itu, Suria menjawab dan juga sekaligus meminta berhenti dari pekerjaan sampai-sampai memaksa Patih untuk bisa berhenti dari pekerjaannya walaupun Patih sudah sempat melarang Suria. Ternyata Suria menggunakan kas gubernemen dan ia takut dengan hal itu. Ia takut semua hilang termasuk nama baiknya. Maka ia memutuskan untuk cepat-cepat pergi dari pekerjaannya itu tetapi ia sudah menyempatkan diri untuk melunasi hutang-hutang yang ada pada dirinya. Setelah itu Suria dan keluarganya harus berpindah rumah. Akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke rumah anak sulungnya, Abdullhalim yang sudah mapan itu. Sebelumnya dia sudah menulis surat kepada anaknya itu bahwa dia dan istrinya serta anak-anaknya hendak tinggal di rumah  Abdullhalim.
Sebagai anak yang hendak berbakti kepada orang tuanya, jelas Abdullhalim tak merasa keberatan kalau kedua orang tuanya bermaksud tinggal di rumahnya. Setelah beres-beres, Suria dan istrinya langsung berangkat  ke rumah Abdulhalim. Rupanya tingkah laku pola Suria betul-betul tak pernah berubah, walaupun dia jelas-jelas tinggal di rumah anaknya dan sekaligus menantunya itu, namun Suria merasa dialah sebagai kepala rumah tangga dalam rumah tangga itu. Yang paling menderita melihat  tingkah laku Suria  yang diluar batas itu adalah Zubaedah. Hatinya hancur lebur, karena kehidupan keluarganya  berantakan akibat ulah suaminya itu.
Akibatnya Zubaedah sakit-sakitan  sampai meninggal dunia dengan menanggung  penderitaan batin yang teramat dalam. Kesadaran Suria baru muncul, yaitu ketika istrinya meninggal itu. Dia merasa malu yang dalam , karena telah mengganggu kedamaian kehidupan Zubaedah istrinya itu. Karena merasa malu dan menyesal, Suria kemudian mengambil keputusan meninggalkan  keluarganya  dan pergi entah ke mana tanpa tujuan. Dia hilang pergi entah kemana, dengan membawa semua penyesalan, malu serta segala kesombongan dan keangkuhan yang sudah mendarah daging itu.

(Nicolaus Sulistyo.D)

Penulis : Nicolaus S. ~ Sebuah blog yang menyediakan berbagai macam informasi

Artikel Sinopsis Novel "Katak Hendak Jadi Lembu” karya Mochtar Lubis ini dipublish oleh Nicolaus S. pada hari Rabu, 26 Agustus 2009. Semoga artikel ini dapat bermanfaat.Terimakasih atas kunjungan Anda silahkan tinggalkan komentar.sudah ada 0 komentar: di postingan Sinopsis Novel "Katak Hendak Jadi Lembu” karya Mochtar Lubis
 

0 komentar:

Poskan Komentar